Penis Palsu, Siapa Yang Mau?

Posted on August 15, 2008. Filed under: penis | Tags: , , , , , |

Kaki palsu, tangan palsu, sudah biasa kita dengar. Bagaimana dengan penis palsu? Meningkatnya pengetahuan manusia akan masalah seksual manusia menyusul dengan banyaknya penemuan obat, terapi untuk mengatasi masalah disfungsi ereksi membuat sejumlah ahli menciptakan sebuah alat baru, penis palsu.

Seorang pria dengan kehidupan luar biasa berusia 45 tahun. Istri cantik, kaya rata tetapi memiliki masalah dengan penis. Penis pria tersebut bengkak yang menyebabkan pembuluh darahnya rusak. Semuanya disebabkan ketika pria tersebut mengalami kecelakaan lalu lintas.

Pria kaya tersebut akhirnya setuju, prostesis penis dipasang.  Dan kini dengan penis palsu tersebut si pria tetap bisa memuaskan istrinya dan sejak 5 tahun lalu, penis palsu tersebut masih baik.

Arti Negatif Prostesis Penis
Persoalan yang melatarbelakangi penggunaan prostesis penis masih kerap dianggap tabu. Ya, memang penis palsu terkait sekali dengan Disfungsi Ereksi (DE). Di masa lalu DE kerap disebut impotensi.
National Institute of Health (NIH) kemudian mengemukakan istilah disfungsi ereksi untuk menggantikannya karena terminologi ini memberi definisi lebih spesifik dibanding kata “impotensi” yang bisa mencakup problem lain yang terkait dengan libido, ejakulasi, atau orgasme.

Selain itu, impotensi memiliki arti negatif yang bisa dianggap cukup mempermalukan pria. Prof. Wimpie Pangkahila, Sp.And, menyebutkan bahwa DE merupakan ketidakmampuan mencapai atau mempertahankan ereksi penis yang cukup untuk melakukan hubungan seksual.

Menurut studi yang diterbitkan oleh British Journal of Urology, DE merupakan kondisi umum yang diperkirakan diderita 152 juta pria di dunia. Ini termasuk perkiraan total 90 juta pria di Amerika Serikat, Perancis, Jerman, Italia, Spanyol, Inggris, Jepang, dan Brasil.

Ada banyak hal yang menyebabkan seseorang mengalami DE, mulai dari bertambahnya usia, penggunaan obat (psikotropik, antidepresan, antihipertensi, dll), operasi, trauma saraf, hingga kebiasaan buruk (merokok, konsumsi alkohol, narkoba), dan banyak lagi.

Tentu saja pengobatan DE harus sesuai dengan penyebabnya. “Tanpa pengobatan terhadap penyebab, pengobatan DE tidaklah rasional dan tidak mengatasi masalah yang sebenarnya,” ujar Prof. Wimpie.

Sebab itu, dibutuhkan pemeriksaan lengkap dan teliti. Usai pengobatan tahap pertama, selanjutnya adalah pengobatan untuk membantu terjadinya ereksi. Dalam hal ini, setidaknya ada tiga lini pengobatan.

Lini pertama termasuk tahap yang tidak invasif (tanpa pembedahan atau operasi), dengan terapi seks, obat minum, dan pompa vakum. Lini kedua, termasuk injeksi bahan untuk mengaktifkan pembuluh darah. Bahan disuntikkan langsung ke penis atau dimasukkan melalui saluran kencing. Pengobatan yang termasuk lini ketiga adalah operasi pemasangan prostesis.

Berdiri Terus
Lini ketiga, menurut Dr. Johan R. Wibowo, Sp.BU, merupakan lini terakhir. Artinya, lini ini bisa ditempuh bila lini pertama dan kedua sudah tidak bisa lagi menyelesaikan masalah. Jadi tidak bisa serta merta langsung menerapkan tahap ketiga ini.

Tindakan operasi, menurut Johan, bisa datang atas permintaan pasien. “Bisa terjadi karena operasi penis ini tidak terkait dengan hidup mati seseorang. Pasien tahu bahwa hasilnya pasti memuaskan,” katanya.

Namun, kerap juga penderita harus mengikuti petunjuk dokter karena lini pertama dan kedua sudah tidak bisa diandalkan. Biasanya, karena ada kerusakan pembuluh darah penis, entah itu kecelakaan atau akibat priapismus (penis tegak terus-menerus). Bisa juga diterapkan bila penis mengalami fibrosis (terbentuknya jaringan semacam parut dan tebal yang menghambat aliran darah).

“Sesuai hukum alam, semakin invasif, keberhasilannya makin tinggi. Lini ketiga ini seratus persen bisa menyelesaikan masalah,” ungkap spesialis bedah urologi dari RS Omni Medical Center ini.

Johan melanjutkan, saat ini setidaknya ada dua jenis prostesis yang kerap digunakan, inflatable dan non-inflatable. “Yang pertama bisa dikembang-kempiskan. Biasanya isinya silikon atau udara dengan reservoir yang ditanam di perut. Dengan electronic device yang bisa ditekan, alat ini bisa langsung dibuat tegak, sedangkan yang kedua tidak bisa,” paparnya.

Jenis non-inflatable ada yang semi rigid atau bisa ditekuk, ada juga yang tak bisa ditekuk atau rigid. “Ini yang paling tidak disukai pemakainya karena pasti malu akan kelihatan berdiri terus,” ujarnya. Jenis inflatable, menurut Johan, paling mahal karena lebih rumit dan canggih teknologinya serta dibuat di AS. “Sekitar 10.000 dolar AS, kira-kira 91 juta rupiah dengan nilai kurs 9.100 rupiah,” imbuhnya.

Jenis penis noninflatable lebih murah. Harganya 3.000 US dolar atau sekitar Rp. 27.000.000. Sedangkan buatan India berkisar kurang lebih Rp. 10.000.000.
Sumber:  Seksualitas.net

Make a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

One Response to “Penis Palsu, Siapa Yang Mau?”

RSS Feed for Program Pelatihan Penis Sehat Untuk Pria Comments RSS Feed

barang enak emang mahal ya


Where's The Comment Form?

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: